Kamis, 07 November 2013

DIALEK BANYUMASAN


Dialek Banyumasan
Bahasa Banyumasan | Dialek Banyumas

Dialek Banyumasan
Jika kita lihat dialeknya, bahasa Jawa mempunyai ragam yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Tetapi secara garis besar ragam bahasa Jawa dapat dibagi dalam dua kelompok besar dialek. Ragam bahasa Jawa kulonan (barat) yang mewakili wilayah Banyumas, sebagian Kedu, sebagian Pekalongan, Tegal, sebagian Brebes yang sering disebut sebagai bahasa Banyumasan. Ragam kedua adalah ragam bahasa wetan (timur) yang juga sering disebut bahasa bandhekan oleh orang Banyumas mewakili wilayah Jawa Tengah bagian Timur dan Jawa Timur.

Ciri khas yang membedakan bahasa Banyumasan dengan bahasa Timuran adalah dalam hal ucapannya. Karena cirikhas ucapan yang sangat menyolok orang sering menganggap bahasa Banyumasan adalah bahasa tingkat kasar, sedang bahasa timur dianggap sebagai bahasa Jawa halus (kratonan). Hal ini mengakibatkan orang Banyumasan tidak bangga dengan bahasanya sendiri. Jika kita jumpai orang Banyumas tinggal di wilayah Timur maka ia cenderung menggunakan ragam bahasa jawa “halus”, hal yang berbeda jika kita jumpai orang wilayah Timur berada di wilayah Banyumas, ia tetap menggunakan bahasa aslinya.
Namun sebenarnya masing-masing ragam mempunyai kekuatan masing-masing, meskipun seseorang yang menggunakan bahasa Banyumasan sering ditertatawakan jika berbicara di luar daerahnya. Ciri ini kemudian digunakan beberapa pelawak untuk mengundang tawa orang. Kalau diperhatikan secara seksama kekuatan itu terletak pada budaya lesan dan budaya tulisan.
Lesan timuran tulisan Banyumasan
Jika kita menggunakan bahasa Jawa dalam bentuk tulisan tidak akan janggal jika yang digunakan tulisan jawa (ha na ca ra ka dst). Karena apa yang ditulis itulah yang diucapkan. Artinya tidak ada perbedaan antara apa yang dibaca dengan apa yang ditulis. Kondisi demikian tidak terjadi dalam bahasa Jawa tulisan latin.
Misalnya kata coro dan cara akan mempunyai makna yang berbeda. Kata coro dibaca coro seperti dalam kata toko mempunyai makna hewan lipas atau kecoak, sedang kata cara dibaca cara seperti dalam kata cocok atau kolom (bukan menggunakan a seperti dalam kata dimana atau o seperti dalam kata toko) mengandung makna jalan melakukan sesuatu (KBBI).
Demikian pula jika kita melihat kata lara dan loro juga mempunya makna yang berbeda. loro yang dibaca seperti dalam kata toko mengandung arti dua, sedang lara yang dibaca seperti pada kasus kedua mengandung makna sakit. Contoh lain misalnya kata ronda dan randa maknanya juga berbeda jauh. Ronda dibaca seperti dalam kata kota artinya bisa berarti patroli (KBBI), randa yang dibaca seperti dalam kasus kedua berarti janda. Tetapi anehnya banyak orang Jawa yang rancu dalam menggunakan ragam jawa tulisan dalam hal penggunaan huruf o atau a.
Orang sering menulis dengan tulisan coro meskipun yang dimaksud adalah cara. Demikian juga orang sering menulis dengan kata rondo meskipun yang dimaksud adalah randa. Kalau demikian halnya apa yang perlu dipakai sebagai kaidah ? Cara yang paling sederhana sebetulnya adalah dengan melihat bagaimana cara menulis dalam huruf Jawa. Tetapi sayangnya kini sudah banyak orang Jawa yang lupa dengan hurufnya sendiri. Maka cara termudah sekarang ini adalah menggunakan kekuatan jawa timuran dan jawa banyumasan.
Kekuatan itu terletak pada ucapan dan tulisan. Gunakan bahasa lesan dengan ucapan bahasa jawa wetanan, tetapi gunakan bahasa lesan banyumasan untuk menuliskannya.  Cara seperti ini lebih mudah ditempuh karena memang ucapan gaya Yogya penulisannya dengan gaya ucapan banyumasan. Apa yang diucapkan o orang timur oleh orang banyumas juga diucapkan o, tetapi apa yang diucapkan a (seperti dalam ucapan kotornya bahasa Indonesia ) akan diucapkan a (seperti dalam kata) dan apa yang diucapkan a (seperti dalam kata) juga diucapkan a (seperti dalam kata) oleh orang Banyumas. Misalnya kata jawanya merpati mestinya ditulis dara (seperti dalam ucapan banyumas dara, data) bukannya menggunakan huruf doro seperti yang diucapkan oleh ragam bahasa Yogya. Dalam bahasa jawa daerah timur dara akan diucapkan seperti dalam kata tokoh. Di sinilah kekuatan masing-masing dialek, gunakan ucapan gaya Yogya tapi gunakan tulisan gaya Banyumasan.
Cara lain yang bisa digunakan adalah bagaimana bunyi kata itu jika ditambah dengan akhiran ane, itulah sebenarnya cara menuliskannya. Misalnya dara darane, kanca kancane, toko tokone, loro lorone (dua-duanya) atau lara larane (sakit sakitnya). Dengan demikian dara (merpati) tidak ditulis doro, kanca (teman) tidak ditulis konco dan lara tidak ditulis loro, tetapi loro (dua) tetap ditulis loro.
Demikian juga penggunaan dh dan th yang akan berbeda dengan penggunaan d dan t. Misalnya dh dalam cedhak (dekat) seperti dalam ucapan tidak bukannya ditulis cedak seperti dalam kata dandan. Kita juga akan sering menjumpai kesalahan penggunaan th. Kata kethak (jitak) mestinya ditulis kethak seperti diucapkan dalam kotak (ind), bukannya ditulis ketak seperti diucapkan dalam batak.

Share this

0 Comment to "DIALEK BANYUMASAN"

Posting Komentar